Hi! Namaku Raditya Nanda Dhevara, but you can call me Dheva, Depz, or Depa, whichever feels right to you π
Right now, I'm still on a journey of finding my true self. Kadang aku masih merasa belum maksimal dalam banyak hal β terutama dalam hal niat dan konsistensi untuk menjadi lebih baik. Aku juga masih sering merasa minder atau kurang percaya diri, but deep down, I keep trying to learn, grow, and change little by little.
Aku percaya setiap orang punya waktunya masing-masing, and maybe this is my time to start again, selow tapi pasti.
Semoga di tahun ini dan tahun-tahun berikutnya, semua dreams, hopes, and goals yang aku mau bisa benar-benar terwujud. π»
"You don't have to be perfect to be better β you just have to keep going."
"Grow at your own pace, even when it feels slow β progress is still progress."
"Someday, the version of me I'm chasing will finally smile back." π
Between people
Between the wind
Each person has their own desires
Painted together
When it becomes firm enough to stand on
Then it becomes my world
My small heart
And the good things in it
Break and harden
Melt and fall away
And only then can I see my eternity
Love between people
Everyone gathers together
Hoping for eternity
If we bury our bodies and hearts
Then our world becomes perfect
With love
With love
My small heart
Like small waves inside
Break and push towards you
Melting and falling away
And only then can I see my eternity
At its core, this song is about love as a universal force, not just romantic love, but the kind of love that connects all human beings, that heals, and that helps us grow.
It tells the story of how people, like the wind, cross paths and influence each other. Through these encounters β sometimes painful, sometimes beautiful β we begin to understand what it truly means to love and to be loved.
The imagery of hearts breaking, hardening, melting, and falling away represents the transformative journey of love. Only through experiencing these cycles of vulnerability and strength can we truly see our own eternity β our lasting impact on others and the world.
Sejak awal pandemi Covid, aku cukup kaget dengan keadaan dunia saat itu. It felt like something straight out of a movie, everything changed so fast.
Aku sering nonton film bertema zombie apocalypse, dan selalu berharap hal seperti itu nggak akan pernah terjadi di dunia nyata. Walau Covid jelas bukan zombie, tapi kenyataan bahwa virus itu bisa membunuh banyak orang bikin aku ".....".
Karena rasa takut itu, aku mulai mencari hal lain yang bisa bikin aku lupa sejenak. And that's when I found something new, the world of Anime.
Anime pertama yang aku tonton adalah Highschool DxD (not recommended tho π ). Tapi dari situ aku langsung terpukau. Animasi, warna, ekspresi, semuanya terasa alive. Aku cuma bisa mikir, "How can people create something this cool?"
Setelah aku cari tahu, ternyata semua itu digambar frame by frame oleh animator. Aku shock banget. Sejak saat itu, aku jadi benar-benar respect para animator. Sampai sekarang pun, setiap kali nonton anime dengan visual yang keren, aku selalu ter-amaze dan mikir, "They really did this by handβ¦ amazing." π¨
Aku bersyukur banget punya orang tua yang begitu peduli. Mereka selalu menempatkan anak di atas segalanya, bahkan di atas diri mereka sendiri.
Dari kecil, hidupku bisa dibilang "serba ada", tapi bukan berarti mudah. Ayahku dulu sering berpindah-pindah kerja, jadi kami sering ikut berpindah tempat juga. Aku pernah tinggal di pedalaman Kalimantan, lalu pindah ke Jakarta. That was a huge culture shock for me.
Aku jadi anak yang agak sulit beradaptasi. Kadang aku merasa asing di tempat baru. Tapi satu hal yang selalu sama, orang tuaku selalu ada. Ibu sering bantu aku belajar, bahkan sampai nanya-nanya tiap mata pelajaran biar aku siap sekolah.
Waktu aku diterima di Institut Teknologi Bandung, itu jadi momen paling bahagia buat keluarga kami. Mereka sangat bangga dan menunjukkan cinta mereka dengan banyak cara, hadiah, dukungan, dan doa tanpa henti. Tapi di sisi lain, aku juga mulai sadar...
Hidup sendirian sebagai anak rantau itu nggak semudah yang aku kira.
Ternyata selama ini hidupku "terasa mudah" karena ada mereka di belakangku. Now that I'm on my own, I realize, life isn't easy, but that's what makes us grow.
We need to struggle, learn, and fight to become the real version of ourselves.
"Sometimes you need to be alone, not to feel lonely, but to realize who you truly are." π
Mengenal diriku melalui lima dimensi yang membentuk siapa aku sekarang.
Aku selalu punya semangat tinggi untuk belajar. I love learning something new and challenging myself to be better every day. Aku nggak mau menjadi orang yang tertinggal, aku percaya bahwa progress, no matter how small, still matters.
Selain itu, aku easygoing parah, gampang bergaul dan sering dianggap membawa suasana positif. Ketika berbicara, aku sering membuat suasana menjadi meriah, bukan karena ingin menonjol, tapi karena aku selalu berusaha membuat orang lain merasa nyaman.
For me, being number one is cool, but being remembered is better. π
Motivasi terbesarku datang dari keinginan untuk berkembang dan memberi dampak baik bagi orang lain.
Aku punya passion dalam belajar, beradaptasi, dan berbagi hal baru, karena aku percaya setiap pengetahuan yang aku dapat bisa membantu seseorang di luar sana.
Nilai yang paling aku pegang adalah ketulusan, kerja keras, dan keberanian untuk mencoba.
That's my "why" β to grow, to help, and to make people feel inspired by my journey.
Aku cepat menangkap hal baru dan punya rasa ingin tahu yang besar. Dalam hal keterampilan, aku mulai mengasah kemampuan di bidang teknologi, komunikasi, dan kreativitas.
Aku juga punya kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru dan memahami orang lain dengan empati.
I may not know everything yet, but I'm always ready to learn and improve.
Aku tipe orang yang optimistic, warm, and flexible.
Aku mudah bergaul, tapi juga bisa serius kalau sudah fokus pada tujuan.
Aku suka lingkungan yang terbuka, penuh ide, dan tidak kaku, karena di situ aku bisa berkembang maksimal.
I'm the kind of person who brings good vibes, but also values deep and meaningful conversations.
Hidupku penuh dengan perpindahan dan pembelajaran baru, dari kampung biasa, kota besar, hingga akhirnya merantau untuk kuliah. Semua pengalaman itu membentukku jadi seseorang yang lebih tangguh, adaptable, dan sadar diri.
Aku belajar bahwa hidup itu nggak selalu mudah, tapi setiap tantangan adalah kesempatan untuk tumbuh.
Each experience, whether success or failure, has taught me something valuable β and that's what makes me.
"I'm still on my way β learning, growing, and finding who I truly am. Not perfect, but always in progress." π
| Aspect | Key Points |
|---|---|
| Signature Strengths | Semangat belajar tinggi, easygoing, membawa suasana positif |
| Heart | Berkembang & memberi dampak, ketulusan, kerja keras, berani mencoba |
| Aptitudes & Skills | Cepat belajar, teknologi, komunikasi, kreativitas, empati tinggi |
| Personality | Optimistic, warm, flexible, good vibes, meaningful conversations |
| Experiences | Perpindahan tempat, adaptasi, tangguh, belajar dari tantangan |
Identifikasi Diri:
Nama: Raditya Nanda Dhevara
NIM: 18224111
Kelas: K03
Semester: Ganjil 2025/2026
Berikut hasil Peer Assesment : https://bit.ly/4ogW64J
Tinjauan Umum:
Refleksi umum atas hasil pembelajaran dan perkembangan diri selama UTS 1β4.
| Kriteria | Deskripsi Penilaian | Skor |
|---|---|---|
| Orisinalitas | Narasi pribadi yang jujur dan otentik. | 5 |
| Keterlibatan | Cerita mengalir alami dan emosional. | 5 |
| Gaya Bertutur | Hangat dan mudah diikuti. | 4 |
| Insight | Menggambarkan kesadaran diri dengan baik. | 5 |
| Kriteria | Deskripsi Penilaian | Skor |
|---|---|---|
| Orisinalitas | Pemilihan lagu yang merepresentasikan diri. | 5 |
| Keterlibatan | Tulisan emosional dan peka. | 5 |
| Emosi | Seimbang antara kejujuran dan ekspresi. | 4 |
| Inspirasi | Menyentuh dan memotivasi pembaca. | 5 |
| Kriteria | Deskripsi Penilaian | Skor |
|---|---|---|
| Orisinalitas | Kisah reflektif dan penuh makna. | 5 |
| Keterlibatan | Runtut dan menarik perhatian. | 5 |
| Pengembangan Narasi | Struktur ide kuat dan konsisten. | 5 |
| Inspirasi | Mengajak pembaca untuk refleksi diri. | 5 |
| Kriteria | Deskripsi Penilaian | Skor |
|---|---|---|
| Orisinalitas | Refleksi diri mendalam dan personal. | 5 |
| Keterlibatan | Jelas dan menarik. | 4 |
| Struktur | Tiap aspek SHAPE dijelaskan logis. | 5 |
| Inspirasi | Memotivasi pembaca untuk mengenal diri. | 5 |
| UTS | Total Skor | Persentase | Kategori |
|---|---|---|---|
| UTS-1 | 19/20 | 95% | Sangat Baik |
| UTS-2 | 19/20 | 95% | Sangat Baik |
| UTS-3 | 20/20 | 100% | Sangat Baik |
| UTS-4 | 19/20 | 95% | Sangat Baik |
Kesimpulan:
Keempat tugas menunjukkan konsistensi refleksi dan perkembangan diri. Aku belajar bahwa komunikasi yang baik bukan sekadar berbicara, tapi juga memahami dan hadir sepenuh hati. Ke depan, aku ingin mengasah komunikasi asertif tanpa kehilangan empati.
Di Indonesia, akses terhadap pendidikan dasar dan keterampilan literasi masih menjadi tantangan bagi sebagian masyarakat. Faktor ekonomi yang terbatas, keterbatasan fasilitas pendidikan, serta kurangnya dukungan dari lingkungan sekitar menyebabkan banyak individu belum mampu menguasai kemampuan membaca dan menulis. Kondisi ini berdampak pada rendahnya kualitas hidup, terbatasnya kesempatan kerja, serta berlanjutnya kesenjangan sosial dan ekonomi.
Literasi merupakan hak dasar setiap individu dan menjadi fondasi utama dalam pengembangan sumber daya manusia. Kemampuan membaca dan menulis tidak hanya berfungsi sebagai keterampilan akademik, tetapi juga sebagai sarana untuk memahami informasi, mengembangkan pola pikir kritis, serta berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan sosial. Tanpa literasi yang memadai, individu berisiko merasakan adanya kesenjangan dalam masyarakat yang semakin bergantung pada arus informasi dan teknologi.
Perkembangan teknologi digital membawa peluang dalam memperluas akses pendidikan, namun sekaligus memunculkan tantangan berupa ketimpangan akses teknologi. Tidak semua masyarakat memiliki kesempatan yang setara terhadap perangkat digital dan jaringan internet. Selain itu, kelompok rentan seperti penyandang disabilitas menghadapi hambatan tambahan dalam mengakses pembelajaran literasi melalui sistem pendidikan konvensional yang belum sepenuhnya inklusif.
Dalam konteks tersebut, pemanfaatan teknologi informasi dan Artificial Intelligence (AI) dapat menjadi sarana pendukung dalam meningkatkan akses dan kualitas pendidikan literasi. Sistem pembelajaran berbasis teknologi memungkinkan pendekatan yang lebih fleksibel dan adaptif, sehingga proses belajar dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan individu. Kehadiran teknologi ini berpotensi memperluas jangkauan pendidikan literasi, khususnya bagi masyarakat yang selama ini sulit mengakses layanan pendidikan formal.
Melalui pendekatan yang terintegrasi pada kebutuhan manusia, teknologi dapat berperan sebagai pendukung dalam menciptakan sistem pendidikan yang lebih baik. Dengan demikian, pemanfaatan teknologi dalam pendidikan diharapkan mampu memperkuat upaya peningkatan literasi serta membuka peluang yang lebih luas bagi seluruh lapisan masyarakat.
Menurut pandangan saya, permasalahan utama akses pendidikan dan literasi di Indonesia bukan semata-mata terletak pada ketersediaan teknologi, melainkan pada ketimpangan dalam pemanfaatannya. Perkembangan Artificial Intelligence dan teknologi digital sering kali dianggap sebagai solusi universal, padahal tanpa kesiapan sosial, ekonomi, dan kebijakan yang memadai, teknologi justru berpotensi memperlebar kesenjangan pendidikan.
Saya berpendapat bahwa pemanfaatan teknologi dalam pendidikan literasi harus diposisikan sebagai alat pendukung, bukan sebagai pengganti peran pendidik dan interaksi manusia. Literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis membaca dan menulis, tetapi juga melibatkan proses pembentukan cara berpikir, nilai, dan pemahaman sosial yang membutuhkan pendampingan langsung. Ketergantungan berlebihan pada sistem otomatis tanpa pendekatan manusiawi dapat mengurangi esensi pendidikan itu sendiri.
Selain itu, penerapan teknologi pendidikan berbasis AI perlu mempertimbangkan kondisi kelompok rentan, seperti masyarakat ekonomi rendah dan penyandang disabilitas. Tanpa desain yang jelas dan sesuai, sistem pembelajaran digital berisiko menciptakan bentuk permasalahan baru. Oleh karena itu, saya menilai bahwa keadilan akses harus menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan dan inovasi pendidikan berbasis teknologi.
Di sisi lain, saya melihat AI memiliki potensi besar apabila diterapkan secara bertahap dan terintegrasi dengan kebutuhan nyata masyarakat. Teknologi dapat membantu memperluas jangkauan pendidikan literasi, menyediakan pembelajaran yang lebih fleksibel, serta mendukung proses belajar yang disesuaikan dengan kemampuan individu. Namun, potensi ini hanya dapat tercapai apabila diiringi dengan literasi digital, pelatihan pendidik, serta dukungan kebijakan yang berkelanjutan.
Secara keseluruhan, saya berpendapat bahwa keberhasilan transformasi pendidikan di era Artificial Intelligence atau AI tidak diukur dari seberapa canggih teknologi yang digunakan, melainkan dari sejauh mana teknologi tersebut mampu meningkatkan akses, keadilan, dan kualitas pendidikan literasi bagi seluruh lapisan masyarakat.
TUTUR.AI merupakan sistem Artificial Intelligence berbasis suara yang dirancang untuk membantu pembelajaran literasi melalui interaksi dua arah. Teknologi ini memungkinkan pengguna memperoleh informasi, memahami teks, dan belajar membaca tanpa sepenuhnya bergantung pada kemampuan membaca dan menulis konvensional.
Melalui pendekatan komunikasi verbal, TUTUR.AI berperan sebagai pendamping belajar yang responsif dan adaptif. Pengguna dapat mengajukan pertanyaan secara lisan, mendengarkan penjelasan, serta berlatih memahami kata dan kalimat sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing.
Pemanfaatan teknologi berbasis suara memberikan kemudahan bagi masyarakat yang mengalami keterbatasan akses pendidikan, hambatan literasi, maupun kendala fisik dan sensorik. Dengan mengurangi ketergantungan pada teks, proses pembelajaran menjadi lebih mudah dijangkau dan relevan dengan kondisi pengguna dalam kehidupan sehari-hari.
| Fitur | Deskripsi |
|---|---|
| Interaksi Suara Dua Arah | Pengguna dapat berkomunikasi langsung dengan sistem melalui percakapan suara secara natural. |
| Pembacaan & Penjelasan Teks | Sistem membacakan teks serta menjelaskan makna kata atau kalimat secara sederhana dan bertahap. |
| Pendamping Pembelajaran Mandiri | Mendukung proses belajar secara fleksibel tanpa terikat waktu dan tempat. |
| Antarmuka Sederhana | Dirancang agar mudah digunakan dan dapat diakses oleh berbagai kalangan masyarakat. |
| Dukungan Literasi Dasar | Membantu meningkatkan kemampuan membaca dan menulis sebagai fondasi pengembangan diri. |
Pendekatan berbasis suara memungkinkan teknologi menjangkau individu yang belum memiliki kemampuan literasi secara optimal. Dengan komunikasi verbal yang lebih alami, proses belajar menjadi lebih ramah, manusiawi, dan mudah diterima oleh pengguna dengan latar belakang yang beragam.
"Teknologi seharusnya menyesuaikan diri dengan manusia, bukan sebaliknya."
Literasi di era digital tidak lagi terbatas pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup pemahaman informasi, komunikasi efektif, serta kemampuan memanfaatkan teknologi secara bijak. Dalam masyarakat yang semakin berbasis data dan informasi, literasi menjadi keterampilan esensial untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
Artificial Intelligence berkontribusi dalam mendukung proses pembelajaran melalui kemampuan analisis data, pengenalan bahasa, dan interaksi berbasis suara. Teknologi seperti speech recognition dan text-to-speech memungkinkan pembelajaran literasi dilakukan secara lebih fleksibel, terutama bagi individu yang mengalami hambatan dalam sistem pembelajaran konvensional.
Setiap individu memiliki kebutuhan dan kecepatan belajar yang berbeda. Sistem berbasis AI mampu menyesuaikan materi, metode penyampaian, serta umpan balik sesuai dengan kemampuan pengguna. Pendekatan ini meningkatkan efektivitas pembelajaran dan membantu peserta didik mengembangkan keterampilan literasi secara bertahap dan berkelanjutan.
Pemahaman terhadap teknologi AI juga menuntut kesadaran akan keterbatasannya. AI berfungsi sebagai alat bantu, bukan pengganti peran manusia dalam pendidikan. Oleh karena itu, literasi digital juga mencakup kemampuan berpikir kritis, etika penggunaan teknologi, serta pemahaman terhadap dampak sosial dari penerapan AI.
"Teknologi yang cerdas tetap membutuhkan manusia yang bijak."